Bayan Majelis Syar’i Syarikat Islam Tentang Pemberdayaan Ekonomi Umat

Download: Bayan Majelis Syar’i Syarikat Islam Tentang Pemberdayaan Ekonomi Umat

BAYAN MAJELIS SYAR’I

SYARIKAT ISLAM

NOMOR : 18/BMMSI/-RAMADHAN 1441 H/MEI 2020

TENTANG

PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT

EMPAT SOLUSI YANG DITAWARKAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI KEMISKINAN

 

TAQDIMAH

Sebagai sebuah aturan Allah dengan totalitas kesempurnaannya, Islam berusaha menggulangi kemiskinan dan memberikan langkah-langkah solutif serta mengawasi kemungkinan dampak buruk yang diakibatkan dari kemiskinan. Tujuannya tiada lain adalah untuk menyelamatkan aqidah, akhlaq dan amal perbuatan, memelihara kehidupan rumah tangga sekaligus melindungi kesetabilan dan ketentraman masyarakat dalam mewujudkan kokohnya persaudaraan diantara sesama kaum Muslimin. Dengan berdayanya ekonomi umat, maka kemiskinan akan dapat ditanggulangi dan manusia dapat diselamatkan dari kekufuran. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan bahwa kefakiran dapat mengakibatkan kekufuran. Untuk menanggulangi kemiskinan itulah, paling tidak ada empat solusi yang ditawarkan oleh Islam yang musti kita terapkan dalam kehidupan. Empat solusi yang ditawarkan Islam itu adalah:

 

1). ISLAM MEWAJIBKAN UMMATNYA UNTUK SENANTIASA BEKERJA DAN BERUSAHA

 

DALIL-DALIL Dari AL-QUR’AN

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ (15)

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS Al-Mulk: 15).

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ …..(10)

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kalian di bumi dan Kami jadikan bagi kalian diatasnya (sumber-sumber) penghidupan…”. (QS Al-A’raf: 10).

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (10)

“Apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beroleh keuntungan”. (QS Al-Jum’ah: 10).

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (32)

“…Bagi laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS An-Nisa: 32).

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu lupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”. (QS Al-Qashash: 77).

DALIL-DALIL DARI AL-HADITS:

إذا صليتم الفجر فلا تناموا عن طلب أرزاقكم

“Apabila kalian selesai shalat shubuh, janganlah kalian tidur lagi dan enggan mencari rizki kalian”. (HR Thabrani dari Ibnu Abbas).

أن الله كتب عليكم السعي فاسعوا.

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berusaha, maka hendaklah kalian berusaha”. (HR Thabrani).

ان الله يحب ان يرى عبده يسعى في طلب الحلال

“Sesungguhnya Allah suka melihat hamba-Nya berusaha dalam mencari yang halal”. (HR Thabrani dan Dailami).

طلب الحلال واجب على كل مسلم

“Mencari yang halal itu adalah wajib bagi setiap Muslim”. (HR Thabrani)

ما أكل احد طعاما قط خيرا من ان يأكل من عمل يده وان نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده. (رواه البخاري)

“Tiada sesuatu makanan yang lebih baik bagi seseorang melainkan apa yang dihasilkan oleh pekerjaan tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah Dawud ‘Alaihissalam  makan dari hasil pekerjaan (kerajinan) tangannya sendiri”. (HR Bukhari).

 

2). MENGETUK HATI ORANG-ORANG KAYA

DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN:

وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (75)

“…Dan orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS Al-Anfal: 75).

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90)

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS An-Nahl: 90).

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia menyambung tali persaudaraan”. (HR Bukhari Muslim).

3). PELAKSANAAN ZAKAT

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (20)

“….Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling abesar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Muzzammil: 20).

Tersebut dalam hadits:

من أعطاها مؤتجرا (اي طالبا للاجر والثواب) فله اجرها. ومن منعها فأنا آخذها وشطر ماله (اي نصيفه) غرمة من غرمات ربنا, لا يحل لآل محمد منها شيئ

“Barangsiapa memberikan zakat karena ingin memperoleh pahala, maka baginya pahala zakat itu. Barangsiapa menahannya (tidak mengeluarkan zakat), maka kami akan mengambilnya. Setengah dari hartanya diambil sebagai pembayaran denda kepada Rabb kita. Tidak halal bagi keluarga Muhammad sedikitpun dari zakat itu”. (HR Bukhari)

Berdasarkan hadits ini, Waliyyul Amri (Imam/Pemerintah Islam)  berwenang untuk mengelola urusan zakat, meungut dan menyalurkannya secara langsung ataupun dengan perantaraan wakil-wakilnya (aparatur negara). Barangsiapa diantara mereka menolak, maka boleh dipungut secara paksa[1].

Berdasarkan hadits diatas pula Imam/pemerintah boleh mengambil setengah harta orang muslim yang tidak mau membayar zakat. Hal itu tidak lain sebagai sanksi perdata yang dapat dilakukan petugas yang berwenang pada saat diperlukan. Maksudnya untuk memberikan pelajaran dan peringatan bagi setiap muslim yang enggan membayar zakat atau menghindarkan diri dari kewajibannya. Dengan demikian, satu-satunya rukun Islam yang memberikan sanksi duniawi kepada seorang muslim adalah zakat[2].

 

4).DIRIKAN BADAN LOGISTIK MILIK UMAT

Firman Allah

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7)

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”. (QS Al-Hasyr: 7).

Tidaklah benar jika orang beranggapan bahwa Islam hanya mengutamakan kaum Muslimin saja, karena setiap orang yang hidup dibawah naungan Negara Islam –termasuk kafir dzimmi-. Bahkan khalifah Umar sangat menaruh perhatian terhadap seorang tua papa dari golongan non muslim yang meminta-minta. Suatu ketika ia bertanya kepada kafir yang fakir itu: Apa yang terjadi dengan dirimu wahai pak Tua?.Orang tersebut menjawab: Aku ahli dzimmah dari golongan Yahudi. Lalu Umar berkata: “Sepatutnya Kami berbuat adil terhadapmu. Aku memanfa’atkanmu selagi kamu muda, maka tentu tidak pantas bagiku menelantarkanmu setelah tua”. Selanjutnya Umar membawa orang tua itu ke rumahnya dan diberinya sesuatu yang ia miliki. Kemudian Umar menyuruh pengurus Baitul Mal agar memberikan segala kebutuhan orang kafir miskin tadi.

Manakala kemiskinan melilit seseorang, baik muslim maupun non muslim, maka umat Islam wajib menolongnya. Inilah cara Islam menghormati manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah sebagaimana disebutkan dalam nash Al-Qur’an:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak keturunan Adam…”. (QS Al-Isra: 70).

Anjuran diatas bukan berarti mendorong manusia yang bernaung dibawah negara Islam agar selalu mengharapkan santunan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ajaran Islam tersebut semata-mata bertujuan untuk tetap menempatkan manusia dalam kehidupan ini pada posisi yang dimuliakan Allah. Nabi SAW bersabda:

مَنْوَلي لنا عملا وليس له منزل فليتخذْ منزلا او ليس له زوج فلبتزوج او ليس له دابة فليتخذْ دابة. (رواه الأمام أحمد وابو داود)

“Barangsiapa yang mengatur urusan bagi kami dan dia tidak memiliki tempat tinggal, maka hendaknya dia meminta disediakan tempat tinggal; atau tidak mempunyai isteri, maka hendaklah ia beristeri; atau tidak memilik hewan tunggangan maka hendaklah ia memilikinya”. (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Hadits diatas berbicara tentang hak fasilitas yang dananya diambil dari Baitul Mal dan diberikan kepada pegawai negara. Tujuan pemberian ini untuk memudahkan mereka dalam menunaikan tugas-tugasnya sehingga mereka tenang dan dapat memelihara amanat yang dipikulnya[3].

HIKMAH KAYA DAN MISKIN

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (32)

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?. Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Az-Zukhruf: 32)

PEMERATAAN HARTA

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“…supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu”. (QS Al-Hasyr: 7)ز

 

Demikian Bayan singkat ini Kami sampaikan, semoga Allah membantu kita dan segenap kaum Muslimin untuk dapat mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan di Akhirat kelak. Aamiin.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

فالله الغني المغني المستعان وهو أرحم الراحمين. حسبنا الله لا اله الا هو عليه توكلنا وهو رب العرش العظيم. حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم.

فاتقواالله مااستطعتم. بالله في سبيل الحق.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 8 Ramadhan 1441 H/ 1 Mei 2020

MAJELIS SYAR’I SYARIKAT ISLAM

 

 

 

 

 

 

 

[1] Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Fath Al-Baari Juz 3 halaman 360

[2] Syaik Yusuf Qardhawi dalam Al-Waqtu Fie Hayatil Muslim hal 184

[3] DR Musthafa As-Siba-iy dalam Istirakatul Islam