P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Pertama)

Dudy Oskandar.

Oleh Dudy Oskandar (Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SAREKAT Islam merupakan organisasi massa yang mampu menarik banyak perhatian rakyat pada masa pergerakan nasional.
Pada mulanya Sarekat Islam merupakan sebuah perkumpulan dagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Dalam rangka memperluas pengaruhnya di kalangan masyarakat Indonesia maka kata “dagang” pada Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI).

Sebagai organisasi massa pertama di Indonesia, pengaruh SI sangat terasa dalam politik Indonesia. Sehingga mampu menarik perhatian orang-orang Sosialis kiri. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan kekuasaan yang besar adalah melakukan infiltrasi terhadap SI dengan cara mempengaruhi tokoh SI.

Sehingga tahun 1921 dilakukan disiplin partai dengan mengeluarkan orang-orang SI yang terpengaruh paham Komunis .
Selanjutnya SI Putih menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) dan tahun 1930 PSI berubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Meskipun tadinya Sarekat Islam (SI) merupakan momok yang besar dan menyebabkan keganasan pihak Pemerintah Kolonial Belanda terhadap kaum pergerakan di Palembang , juga menimbulkan kelemahan dalam kalangan pendukung ideologi Islam di Palembang disebabkan adanya kecurangan administratip yang dilakukan oleh beberapa orang pemimpin, akan tetapi hal ini tidaklah dapat mengikis perkembangan ideologi tersebut, dari jiwa umat Islam didaerah ini.

Beberapa orang dari bekas pemimpin P.N.I. lama, diantaranya M. Yahya dan Topa dengan dibantu oleh Sarman Surianataatmadja, R. Sabri, dengan alasan yang prinsipil meneruskan cita-cita Sarekat Islam yang kini sudah menjelma menjadi P.S.I dan akhirnya menjadi P.S.I.I. Kemudian M. Yahya dan kawan-kawan akhirnya meninggalkan P.S.I.I. dan menetap di Partindo, sampai partai ini bubar.

Sebenarnya tidaklah begitu sulit untuk mengembangkan P.S.I.I. di Palembang, karena benih-benihnya sudah tersebar diseluruh daerah. Tinggal mengorganisirnya saja lagi. Disamping tenaga pemimpin P. S. I. I. tersebut diatas, juga terdapat beberapa tenaga lagi yang turut aktip menyumbangkan pikiran dan usahanya untuk kebesaran partai ini. Diantaranya disebut nama : R. Bratanata, Ja’cub P.T.T., R. Hasan dan lain.-lain.

Sebelumnya, bencana yang menimpa secara beruntun selepas Pemberontakan 1926-1927 menyebabkan frustrasi yang amat besar di kalangan kaum pergerakan, termasuk di Palembang. Penguasa kolonial semakin represif dan telah cukup banyak di antara mereka yang “didigulkan” (dibuang ke Digul) yang di mata kaum pergerakan zaman itu sama dengan dikirim ke neraka ciptaan Belanda).

Gerakan politik yang terang-terangan menentang kebijakan kolonial dirasakan tidak lagi efektif. Kebanyakan kaum pergerakan mulai berpaling pada gerakan bawah-tanah. Mereka mencoba memadukan kegiatan politik yang “tertutup” dengan usaha dagang dan pendidikan yang “terbuka”.

Antara tahun 1933 – 1937, merupakan masa kosong. Tidak satu gerakan politik pun yang menonjolkan dirinya. Kesepian gerakan partai ini dipergunakan oleh P.S.I.I. sebagai suatu kesempatan memperluas pengaruh dan gerakannya. Begitulah dalam waktu yang singkat saja, P.S.I.I. telah dapat mencapai angka 500 untuk jumlah cabangnya dengan anggota teras tidak kurang dari 25.000 orang, tersebar diseluruh Sumatera Selatan, termasuk Jambi.

Partai ini terus-menerus bersikap nonkoperatip terhadap Pemerintah Kolonial Belanda. Partai ini tidak terpengaruh dengan langkah baru, misalnya saja langkah dan siasat baru yang bertiup dari Jawa yang mengemukakan politik koperatip dalam batas kemungkinan dengan Pemerintah Jajahan.
Oleh sikap dan pendiriannya yang tidak tedeng aling itu maka banyak sekali diantara pemimpin dan malahan anggota partai yang mengalami penderitaan besar akibat tindakan dari pihak yang berkuasa.

Dapat dikatakan, bahwa pintu penjara buat kaum P.S.I.I. menjadi hal biasa saja. Demikian pula hukuman lainnya. Gerakan partai terutamanya ditujukan untuk mengangkat nasib dan penghidupan rakyat. Misalnya saja mengadakan pembelaan mengenai pajak. Juga mengenai soal perkawinan yang banyak dipersulit oleh hukum adat yang berlaku didaerah-daerah yang berlain-lainan bentuknya.

Tidak sampai disitu saja. Juga sikap pertentangan yang dilahirkan oleh pegawai B.B., Pasirah dan Krio”, sehingga akibatnya tidaklah heran bahwa Pemerintah Belanda kemudian menggunakan hukum adat di Marga tersebut untuk memberangus pemimpin rakyat, yang terbanyak diantaranya ialah dari kalangan P.S.I.I.

Banyak peristiwa hebat yang dialami dalam sejarah pertumbuhan P.S.I.I. Peristiwa yang terkenal dengan sebutan “Peristiwa Rantau Alae” yang dengan secara langsung tersangkut H.O.S. Tjokroaminoto ditahun 1933, begitu pula peristiwa Seminung Muara Dua dan peristiwa Air Itam Musi Ilir.

Pada saat itu Partai ini telah mendapat tenaga baru kader P.S.I.I. daerah Palembang yang datang dari Cirebon, ialah A.S. Mattjik. Pada tahun 1940, disaat bangsa Indonesia sibuk dengan tuntutan “Indonesia berparlemen”, P.S.I.I. mengadakan kongresnya yang ke-25 dikota Palembang.

Selain sibuk menghadapi soal politik yang selalu mengancam dirinya itu, PSII. juga aktip berjuang dilapangan pendidikan. Hampir segenap cabangnya mendirikan sekolah, yang dalam sistim pengajarannya mengutamakan dua macam pendidikan: agama dan pengetahuan umum. Disamping itu tidak pula dapat dilupakan, bahwa perguruan tersebut, dengan sendirinya menjadi tempat pendidikan kader partai. *””

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001

sumber: palpres.com