P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Keenam)

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PSII Hadapi Krisis Malaise di Palembang

DEPRESI besar dunia yang disebut Krisis Malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

Krisis Malaise akhirnya berdampak pada merosotnya perekonomian di Hindia Belanda, termasuk Palembang. Padahal sebelum Krisis Malaise, pertumbuhan ekonomi Hindia Belanda sedang mengalami kenaikan secara siginifikan.

Dalam menghadapi Krisis Malaise, PSII berperan sebagai wadah yang menyalurkan aspirasi rakyat dengan menghimpun orang-orang yang terkena dampak Malaise.

Seperti yang dikutip dalam surat kabar Pertja Selatan tahun 1931 yang memuat berita tentang pembentukan Partai Syarikat Islam Indonesia di Pasar 16 Ilir, Palembang, yang terdiri dari pedagang (kecil), pegawai (negeri), dan karyawan (industri minyak) yang dipecat, yang semua menderita akibat Krisis Malaise.

PSII juga membentuk koperasi Centraal Pendjualan Pembelian Kupon Karet (CPKR) yang merupakan salah satu program kerjanya.

Pada tahun 1930 pembentukan koperasi terus dilakukan. PSII memfasilitasi para petani dengan mendirikan koperasi Centraal Pembelian Karet Rakyat (CPKR).

Koperasi tersebut dapat berkembang pesat, dengan demikian CPKR tidak hanya berfungsi sebagai pranata ekonomi bagi petani karet melainkan juga menjadi sarana menggalang massa pengikut PSII di setiap cabang.

CPKR secara perlahan perekonomian Palembang mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jamaah Haji yang berangkat dari Palembang sekitar tahun 1930- an.

Selain itu berdirinya CPKR memberikan sumbangan kepada pendidikan, yaitu mulai didirikannya sekolah-sekolah HIS dan MULO swasta yang justru berasal dari kelompok Islam modernis, PSII.

Secara luas berdampak pada bidang pendidikan dan CPKR yang didirikan PSII mampu menarik perhatian rakyat, sehingga secara tidak langsung menambah jumlah anggota PSII.

Apalagi di tahun 1950, Palembang adalah salah satu pusat ekonomi yang paling penting di Indonesia.

Perkembangan ekonomi Palembang pada periode ini mempengaruhi perubahan struktural selanjutnya, terutama dalam kebijakan ekspor karet di Indonesia pasca kemerdekaan.

Setidaknya ada dua hal yang mendasari perubahan tersebut. Pertama, produksi karet yang berasal dari perkebunan rakyat melebihi hasil karet yang berasal dari perkebunan karet perusahaan. Lebih dari setengah dari total produk karet nasional berasal dari perkebunan karet milik rakyat.

Dengan demikian, daerah-daerah yang didominasi oleh perkebunan rakyat seperti Palembang dan area sekitarnya tumbuh sebagai kontributor utama bagi perekonomian nasional.

Namun, karena tidak seperti perkebunan yang dikelola oleh perusahaan, pemerintah tidak bisa mendapatkan data statistik yang komprehensif atau survei produksi dari perkebunan milik rakyat sehingga tidak terawasi.

Kondisi demikian menjadi kesempatan bagi aktivitas penyelundupan yang nantinya berimplikasi tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga politik. Kedua, volume arus perdagangan karet antara Palembang dan Singapura yang mengalami peningkatan.

Produksi karet Sumatera Selatan yang selama perang dan revolusi mengalami kehancuran kemudian dapat segera pulih dengan kembali dibangunnya pabrik pengolahan karet.

Meskipun demikian, pabrik-pabrik yang baru tersebut tidak menghasilkan lembaran-lembaran karet halus seperti produksi sebelum pecah perang. Ekspor yang berasal dari Palembang baik melalui jalur resmi ataupun penyelundupan karet biasanya masih berbentuk lembaran mentah, berbeda dengan 29 masa kolonial di mana hasil olahan sudah berbentuk lembaran halus yang lebih mudah diolah oleh industri berbahan baku karet.

Hasil produk olahan karet yang kurang sempurna ini menjadi keuntungan bagi industri pengolahan karet di Singapura yang dapat mengolah karet menjadi lembaran halus.

Industri pengolahan karet di Singapura yang pernah mengalami kemunduran pada 1930-an akibat dibangunnya pabrik-pabrik pengolahan karet dengan teknologi serupa di Palembang, pada dekade 1950-an ini mampu bangkit kembali.

Para pemilik industri pengolahan karet di Singapura berani membeli karet dengan harga lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini tentu saja semakin meningkatkan aktivitas ekspor dan penyelundupan dari Palembang ke Singapura.

Pada saat itu, menyelundupkan karet menjadi salah satu pekerjaan yang paling menguntungkan bagi para pedagang di Palembang. Jalur perdagangan Palembang sebagian besar bersandar pada relasi perdagangannya dengan Singapura yang saat itu peran ekonominya semakin kuat di kawasan Asia Tenggara.

Upaya selanjutnya yaitu PSII mengadakan penyelidikan melalui angket tentang pengangguran, penghidupan, beban rakyat, kekurangan pangan yang menyebar, kemiskinan, keamanan dan kesehatan rakyat.

Hasil penyelidikan dibicarakan dalam kongres kilat yang diadakan pada tanggal 30 Juli – 4 Agustus 1935.

Namun keputusan itu tidak dapat diterapkan karena faktor politik pemerintah kolonial disamping persoalan internal organisasi PSII sendiri. ***

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009
6. http://www.konstituante.net/id/profile/PSII_pangku_bin_oemar›.
7. Jeroen Peeters , Kaum tuo-kaum mudo: perubahan religius di Palembang, 1821-1842, INIS, 1997
8. Ryllian Chandra Alumni Program Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, KARET PALEMBANG: Perseteruan Pusat dan Daerah Tahun 1950-an
9. https://palpres.com/2020/05/15/depresi-besar-dunia-malaise-dan-berkah-bagi-daerah-uluan-palembang-tahun-1929-1939/

sumber: palpres.com