ABDOEL MOEIS “BENTENG” SAREKAT ISLAM

Oleh : Tavinur S. Ramadhani

Tatkala kita mengingat sosok pahlawan, apakah pernah ada terlintas di benak kita tentang seorang Abdoel Moeis? Jauh melewati masa, kita mengenal Moeis sebagai seorang Sastrawan Kaliber; bahkan Ia dikenal juga sebagai seorang Top Demonstran yang melegenda. Mungkin, sesekali dalam paruh waktu tertentu, ada baiknya kita mengangkatnya sebagai bahan renungan, bahwa di negeri ini pernah hadir seorang yang demikian keras kepala dengan pendiriannya, dan yang ngotot dengan ide-ide progresifnya. Dan, semua itu dilakukannya dengan argumen dan nalar sehat, jelas dan terarah.

Kendati demikian, mengupas Moeis, bukan berarti kita terlena oleh melodrama sejarah atas epik perjuangannya, yang hanya dituangkan sekedarnya dalam kolom buku-buku sejarah mutakhir dewasa ini. Hakekatnya, membahas Moeis merupakan bagian dari sedikit upaya meruntut sejarah untuk, paling tidak menggugah nilai heroik kita dalam mengoreksi langkah-langkah kita mengemas dan menata negeri ini lebih bermartabat.

Moeis, dalam posisi kepahlawanannya, bagi kebanyakan generasi kekinian, seperti telah terkooptasi jaman. Ia merana dan terselip dalam tumpukan catatan sejarah terbawah negeri ini. Moeis sebagai seorang pahlawan, menjadi ibarat “fosil sejarah” yang terlupakan oleh derasnya kegandrungan terhadap budaya pop dan instrumen ngak-ngik-ngok dewasa ini. Nampaknya, Moeis sebagai pejuang, sosoknya telah terdegradasi oleh pahlawan produk rekaan media sejenis pahlawan DC Comics atau Marvel Studio yang diangkat ke dalam layar lebar.

Kendati fenomena ini bukan gejala parsial, faktanya tokoh pahlawan dalam gambaran dewasa ini, tidak lain adalah para Avanger. Mereka pahlawan-pahlawan yang terlahir oleh derasnya industrialisasi dan pemujaan terhadap teknologi dan informasi. Kita berharap, semoga gejala ini hanya merupakan fenomena sesaat.

Moeis dan Sjarikat Islam (SI) adalah satu kesatuan makna utuh. Ia tidak hanya telah memberi “karakter tegas” di tubuh SI sehingga disegani, juga dihujat, namun ia pun telah mewarnai catatan panjang sejarah kesinambungan bangsa ini. Kekaguman terhadapnya, boleh lah cukup dituliskan sebagai opini tentang orang-orang hebat terdahulu negeri ini. Moeis sebagai penggerak jaman dan SI mesinnya. Faktanya demikian.

Lantas, mampukah kesadaran kolektif kita meneropong perjuangannya? Lalu, memaknainya, tetapi bukan hanya sebagai bahan kajian keilmuan semata atau perbincangan di ruang-ruang akademis. Sederhananya, mengenangnya, bolehlah terbayarkan dengan mengingatnya lewat aubade lagu “telah gugur pahlawanku” yang dilantunkan dengan khidmat dan seksama saat prosesi peringatan Hari Pahlawan. Selanjutnya, dalam bahasa klise, sebuah harapan ditautkan, semoga spirit mereka mampu menggugah kesadaran terdalam kita untuk lebih bijak memerlakukan negeri ini.

Pembicaraan ihwal Moeis bukan soal pengkultusan sosok. Ini menyangkut kerinduan terdalam kita akan sosok panutan. Kita sangat rindu. Betapa rindunya. Rindu seorang “koordinator” ber-klas negarawan, yang mampu mengordinasikan olah pikir dan tindakan ke arah yang lebih kongkrit. Rindu lahirnya negarawan yang mampu mengontrol ‘kekuasaan’ menjadi ritme kebersamaan di semua sektor dan potensi sumber daya bangsa ini.

Kenyataannya, sampai saat ini, kita tetap disibukkan oleh kegaduhan mencari koordinator tersebut. Kisruh di semua lini (eksekutif, legislatif dan yudikatif), kita menyadari, bahwa kita keteteran. Jika demikian, akankah pada waktunya kita tergugah, merenungi kembali, mengadopsi spirit mereka yang dipredikati pahlawan, sejatinya pahlawan, dan diantara mereka terselip sosok Abdoel Moeis? Lalu, fosil sejarah itu pun akan tereduksi menjadi bahasa kebersamaan tentang Indonesia ‘yang apa adanya’. Indonesia yang sepenuhnya, yang berwibawa dan bermartabat.

Karena itu, mustahil memisah tautan sejarah ihwal eksis SI dengan peran Abdoel Moeis. Sebagai “fosil sejarah”, di era gaduh ini, upaya mengankat SI maupun Moeis, ibarat “menegakkan batang padi terendam.” Peran sejarah SI, Moeis dan para aktivisnya, mungkin hanya terlegendakan dalam catatan singkat pelajaran sejarah. Ia melegenda, namun belum sepenuhnya tergali sebagai fakta jujur dalam lakon peran perjalanan sejarah bangsa ini. Alhasil, upaya mengangkat kembali SI sebagai organisasi modern di era milenial ini, bukan sekedar persoalan sentimen formal keorganisasian atau keagamaan. Lebih dari itu, ia diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu mengorganisir seluruh unsur solidaritas persaudaraan bangsa ini. Alhasil, pada gilirannya akan bermuara kepada terbangunnya kembali gagasan tentang ‘Indonesia yang sebenarnya’. Indonesia yang lebih baik.

Melalui spirit dan kedalaman kepekaan mereka: HOS. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Hamka, Soekarno, Kartosoewirjo, termasuk Abdoel Moeis dan sederet nama aktivis lain; SI diharapkan mampu berkelit dari arus tersungkurnya moralitas yang menghinggapi sebagian penyelenggara negara ini. Seperti kata Hamka “kalau hanya sekedar hidup, kera di hutan pun hidup.” Dan, SI tidak sekedar hidup. Kendati perlahan, SI pasti akan tetap hidup. Mungkin, tak harus berteriak, namun nyaring terdengar; tak harus berlari cepat, namun segera mencapai tujuan; tak harus kelihatan jumawa, namun dikagumi dan dicintai; dan seperti ditegaskan HOS. Tjokroaminoto lebih satu abad silam: “kita bukanlah seperempat bagian dari bangsa ini.” Dan kali ini, melalui catatan ringkas ini, kita akan memetik ‘sedikit’ hikmah dari “cerita epik” ihwal Abdoel Moeis.

Mencoba memahami Abdoel Moeis, seperti berguru ke masa silam. Lalu, kita berharap menarik faedah dari sikap kegigihan dan keuletannya. Hidup Moeis adalah pergulatan seorang demonstran. Bergerak dari satu moment ke moment lainnya, laksana seorang petualang. Keberpihakannya dalam menyuarakan kaum bumiputera tertindas, menjadi “bahasa pergerakannya”. Tutur bahasa penyampaiannya pun padat dan tegas. Ini tercermin dari karakter penokohan tokoh di setiap roman-roman yang ditulisnya.

Nyaris setiap penggambaran sosok seseorang dan dinamika yang berkembang sekitarnya, dilukiskan Moeis dalam frasa kata yang pas tanpa berbelit-belit. Begitu pula dalam orasi-orasinya, Moeis mampu mengangkat emosi massa untuk tergerak mengikuti saran dan instruksinya. Kecakapan dan nalar yang runtut dalam sosok Moeis ini, sulit ditemukan dalam sosok pemimpin saat ini.

Pendiriannya tetap bergeming, kendati harus berhadapan dengan moncong popor senjata pasukan Belanda. Pelbagai peristiwa pembangkangan di Bandung, Garut, Padang, Morotai, Yogyakarta, Perkebunan Deli, dan letupan-letupan lain di Nusantara pada saat itu, tidak sedikit yang diinisiasi Moeis. Boleh dikata, karena pergerakannya itu Moeis menjadi langganan pemanggilan atau penangkapan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pengenalan Moeis terhadap Sjarikat Islam (SI), diawali melalui cerita H. Agus Salim, yang telah terlebih dahulu bergabung dengan SI atas undangan Tjokroaminoto. H. Agus Salim, selain masih memiliki tali temali famili dengan Moeis, dimana dalam pergulatan selanjutnya di tubuh SI, mereka menjadi partner seiring membesarkan SI. Bahkan, Moeis juga dikatakan masih memiliki hubungan keluarga dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah (1860-1916), yang pernah menjadi Mufti Imam Masjidil Haram, Mekkah. Syaikh Ahmad Khatib juga menjabat Kepala Sekolah Mazhab Imam Syafi’i di Mesjidil Haram Mekkah. Tak sedikit, di paruh awal abad ke-20 ulama dan kaum reformis Islam yang bertanya dan belajar kepada beliau, termasuk KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta sejumlah ulama Nusantara lainnya (Deliar Noer, 1980 : 122).

Sebenarnya kehadiran Moeis di SI merupakan permintaan langsung Tjokroaminoto. Moeis dinilai memiliki pendidikan dan pengalaman luas, disertai sifat dan sikap pandangan radikal terhadap ketidakadilan dan segala macam hal ihwal penderitaan orang-orang Indonesia. Sifat dan sikap inilah yang menurut Tjokroaminoto diperlukan pada masa itu untuk membina gerakan SI. Di Tahun 1912, Tjokroaminoto mengirim dua orang utusan ke Bandung untuk menemui beberapa orang, termasuk Wignyadisastra, Moeis dan Suwardi Surjaningrat (kemudian dikenal dengan Ki Hajar Dewantara), untuk memperkuat Sjarikat Islam. Ketiga orang ini, selanjutnya secara berurutan menjadi ketua, wakil ketua dan sekretaris SI di Bandung (Deliar Noer, 1980 : 123).

Tidak hanya itu, tulisan atau opininya di pelbagai koran saat itu, dinilai sangat berdampak luas terhadap kebangkitan penduduk bumiputera. Selain memuat gelora perlawanan terhadap penindasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pemerintah Belanda, tulisan Moeis pun menggugah terhadap diberlakukannya pengenaan lebih luas hak-hak bumiputera dalam mengelola asset di daerahnya. Moeis menolak perlakuan tak senonoh terhadap hak-hak pekerja di perusahaan-perusahaan kolonial, seperti di perusahaan perkebunan, jawatan kereta api, jawatan listrik, perusahaan perbankan, pegadaian atau perusahaan yang berafiliasi dengan negara asing lain. Keberpihakan Moeis terlihat tatkala Ia memutuskan hengkang dari tempat kerjanya, Departemen Pengajaran dan Keagamaan (Department van Onderwijs & Eredienst), karena kerapnya Ia melihat kasus pungutan liar yang dilakukan lurah dan kaum priyayi rendahan terhadap orang-orang desa (Deliar Noer, 1995:122-123).

Tak hanya Mohammad Hatta (Wakil Presiden Pertama RI) yang mengagumi Abdoel Moeis. Dalam sebuah tulisannya, Moeis pun dipuji Tan Malaka, seorang aktivis komunis internasional. Tan Malaka menyebut Moeis sebagai inti dari penduduk bumiputera. Karena itu, Ia menempatkan Moeis sebagai seorang tokoh terkemuka yang berjuang untuk memberi kesadaran kaum pribumi; dia pun asal Minangkabau (Poeze, 1988: 63). Kendati kerap bertemu dan berdikusi dengan Tan Malaka, namun ketidakcocokan pandangan dan perbedaan jalur ideologi yang mereka anut, Islam dan Komunisme, tidak lantas mengurangi kekerabatan diantara mereka. Moeis dimata Tan Malaka dipandang sebagai seorang yang memiliki pendirian teguh. Hal ini nampak dari penolakan keras Central Sjarikat Islam (CSI) yang diprakarsai Moeis, terhadap ide dan propaganda PKI dalam menempuh jalur perjuangan menghadapi kebijakan Belanda. Lebih spesifik lagi, kegigihan sikap Moeis yang tegas, terlihat lewat perannya dalam pemurnian Sjarikat Islam dari penyimpangan pemahaman orang-orang “muslim kiri”, yang merupakan embrio Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sandiaga Ramal Ekonomi RI Minus 2% di Kuartal III

Jakarta –

Pengusaha nasional Sandiaga Salahudin Uno memprediksi ekonomi Indonesia masih akan tumbuh negatif di kuartal III-2020 setelah minus 5,32% pada kuartal II-2020.

Namun mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu memprediksi negatifnya ekonomi Indonesia pada Juli-September tidak akan sedalam pada April-Juni.

Sandi menebak ekonomi Indonesia akan kembali tumbuh negatif di level -2%. Namun masih ada peluang untuk tumbuh positif.

“Kalau saya bisa menebak ya angkanya mungkin, kalau saya bisa lihat antara minus 2 sampai plus 1 lah,” kata dia ditemui usai bertemu Mendag Agus Suparmanto di Nur Corner, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2020).

Dia menilai bahwa pada kuartal II, ekonomi Indonesia sudah berada di level terendahnya. Jadi ke depannya akan mulai berbalik ke arah positif alias rebound.

Optimisme tersebut dia sampaikan karena melihat sentra-sentra bisnis seperti pasar tradisional sudah kembali pulih meskipun memang omzetnya turun.

Agar ekonomi Indonesia bisa berbalik arah setelah terjungkal di kuartal II, menurutnya protokol kesehatan harus betul-betul diperhatikan dan dijalankan secara disiplin. Dengan begitu ancaman gelombang kedua pandemi COVID-19 bisa dihindari.

“Kita pastikan dengan kolaborasi, ini kuartal ketiga mudah-mudahan, saya tidak mau terlalu awal tapi saya kok kayaknya optimis ya bahwa kita sudah ada di titik terendah dan kita akan bangkit,” tambah Sandi.

sumber: detik.com

Saran Sandi buat Jokowi Hadapi Ancaman Resesi yang Sudah di Depan Mata

Jakarta – Pengusaha nasional Sandiaga Salahudin Uno menilai Indonesia saat ini tengah dihantui resesi ekonomi. Apa lagi ekonomi di kuartal II-2020 sudah tercatat -5,32%.

Menurut pria yang akrab disapa Sandi itu, ancaman resesi semakin nyata jika peningkatan jumlah kasus baru Corona tak bisa ditekan.

“Saya sampaikan bahwa kita masuk ke resesi sudah semakin nyata di depan kita, apabila skema penyaluran dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) ke Pemda dan UMKM lambat realisasinya. Harusnya 8 Provinsi share PDB nasionalnya tertinggi diberikan skema khusus pinjaman dengan bunga 0% cepat realisasinya, serta besar nilainya,” ujarnya di gedung BEI, Jumat (7/8/2020).

Dia menegaskan, di kuartal II-2020 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mengalami kontraksi -5,32%. Jika kuartal ketiga ingin selamat harus jadikan pemda dan UMKM sebagai garda terdepan dalam penyerapan anggaran penggerak sektor riil.

Sandi mengapresiasi penyaluran dana PEN melalui jalur Himbara dan bank daerah. Namun dia menilai jumlahnya masih terlampau kecil meski mencapai Rp 30 triliun.

Dia menilai angka sebesar itu belum mampu menopang secara menyeluruh daya beli masyarakat yang terus menurun. Pasar modal pun dinilai menjadi alternatif pendanaan UMKM.

Oleh karena itu hari ini BEI dan KAHMI Preneur menandatangani kerja sama dalam rangka sosialisasi dan edukasi tentang pasar modal kepada anggota KAHMI Preneur dan masyarakat pada umumnya.

Kerjasama itu diteken oleh Direktur Utama BEI Inarno Djayadi dan Founder KAHMI Preneur Kamrussamad. Selain itu hadir pula menyaksikan Pengusaha Nasional Sandiaga Uno, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Hoesen dan Komisaris Utama BEI John A. Prasetio.

Sementara Kamrussamad mengatakan pemerintah harus segera mempercepat realisasi program PEN untuk menghindari resesi. Adapun percepatan yang harus dikebut dari program PEN adalah penyaluran anggaran kesehatan, bantuan sosial (bansos) untuk mendongkrak konsumsi masyarakat, dan dorongan pada sektor UMKM serta Korporasi Pada Industri Padat Karya.

“Tim PEN harusnya dipimpin oleh Menteri Keuangan karena desain skema kebijakan Keuangan Negara serta Industri Keuangan untuk mengatasi dampak COVID ini beliau yang siapkan sejak awal sesuai UU No.2 tahun 2020,” tuturnya.

sumber: detik.com

Sandiaga Uno Yakin Ekonomi RI Pulih Usai Terkoreksi -5,32%

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia di kuartal II-2020 terkoreksi -5,32%. Pengusaha Nasional Sandiaga Uno ikut memberikan tanggapan terkait hal itu.

Pendiri PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) itu percaya terkoreksinya ekonomi RI di kuartal II-2020 adalah dasar dari masa penurunan ekonomi Indonesia.

Sandi yakin akan hal itu lantaran dalam beberapa minggu terakhir dia berkeliling ke tengah masyarakat. Menurutnya geliat ekonomi di masyarakat mulai membaik.

“Saya ingin menyatakan dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir saya keliling di tengah masyarakat. Saya optimis kita ini sudah sampai dasar koreksi ekonomi kita,” ujarnya dalam acara penandatangan kerjasama BEI dan KAHMI Preneur di gedung BEI, Jakarta, Jumat (7/8/2020).

Jika penilaian Sandi itu benar maka ekonomi RI akan balik meningkat di kuartal III-2020. Dia pun yakin ekonomi RI akan pulih.

“Jadi mari kita semangat bergandengan tangan, kita bangun. Mudah-mudahan ini jadi momentum untuk pemulihan,” ucapnya.

Sebelumnya Kepala BPS Suhariyanto mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi komponen paling besar yang membuat kontraksi ekonomi Indonesia di kuartal II-2020. Konsumsi rumah tangga yang rendah ini membuktikan daya beli masyarakat Indonesia sedang lesu.

“Sumber PE Indonesia kontraksi 5,32% yang menyebabkan tertinggi adalah konsumsi RT yaitu 2,96%, diikuti PMTB (Pembentukan Tetap Modal Bruto) 2,73%, ke depan ekonomi kita dipengaruhi konsumsi bagaimana kedua komponen ini lebih bergerak baik,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Konsumsi rumah tangga sendiri tercatat mengalami kontraksi hingga 5,51% di kuartal II-2020. Sementara untuk PMTB kontraksi 8,61%.

“Ekspor -11,66%, LNPRT (Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga) -7,76%, konsumsi pemerintah -6,90%, dan impor -16,96%” jelas Suhariyanto.

sumber: detik.com

Momentum Idul Adha, BSG Serahkan 24 Ekor Sapi

MANADO- Sebagai bentuk ketakwaan pada Allah SWT, momentum Idul Adha 1441 Hijriah tahun ini, PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo (BSG) melakukan pemotongan hewan qurban, Minggu (2/8) sekira Pukul 08.00 Wita pagi tadi.

Pantauan Manado Post, pemotongan tersebut disaksikan langsung Direktur Pemasaran BSG Machmud Turuis di halaman parkir BSG.

Pada kesempatan itu, Turuis menyebutkan, tahun ini BSG memberikan 24 ekor sapi untuk dikurbankan. Yang diserahkan langsung di semua Kabupaten/Kota yang ada Sulut dan Gorontalo. “Khusus untuk cabang utama, hari ini ada dua ekor yang kita sembeli. Dan akan diserahkan pada sekira 200 penerima,” sebutnya ketika diwawancarai, pagi tadi.

Lanjutnya, untuk mencegah penyebaran Covid-19, pembagian hewan qurban dilakukan secara dor to dor dengan mendatangi rumah-rumah penerima yang telah mendapatkan kupon. “Nanti akan ada petugas yang mengantarkan ke masing-masing penerima, agar meminimalisir keramaian,” tutur Ketua Syarikat Islam Sulut tersebut.

Bendahara Umum Majelis Ulama Indonesia Sulut itu pun berharap, apa yang diserahkan BSG bisa bermanfaat pada semua orang yang membutuhkan terlebih di masa pandemi ini. ” Ini memang rutin dilakukan BSG setiap tahun. Insya Allah tahun-tahun berikutnya akan semakin banyak hewan yang dikurbankan,” tutupnya.

Turut hadir, Komisaris BSG Rudi Iksan, Pimpinan Divisi Treasury Iskandar Modjo, Pemimpin Divisi Kredit Bisnis Pius Batara, Ketua Badan PembinaanKerohanian Islam Kenedi Paputungan dan Pimpinan Departemen PR Heince Rumende. (ayu)

sumber: jawapos.com

3 Bisnis Moncer di Tengah Pandemi Versi Sandiaga Uno

Jakarta – Pandemi COVID-19 langsung telah melemahkan perekonomian global, termasuk Indonesia. Berbagai bisnis ikut terdampak. Namun, menurut Sandiaga Uno ada sejumlah bisnis yang moncer selama masa pandemi ini.

Pertama digitalisasi, bagaimana digitalisasi ini bukan lagi disrupsi, tapi menjadi satu akselerasi adaptasi masyarakat terhadap kehidupan masa COVID-19,” kata Sandi dalam teleconference Seremoni Penerjunan KKN Muhammadiyah Mengajar 2020 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2020).

Kedua adalah bisnis kesehatan. Sebab semakin banyak orang yang peduli akan gaya hidup sehat seperti boomingnya sepeda saat ini, sehingga semakin banyak orang menggunakan sepeda ketimbang naik kendaraan umum.

“Ini menunjukkan bahwa konsekuensi adopsi tren masyarakat ingin hidup sehat,” jelas pria yang beken disapa Sandi itu.

“Sehingga bisnis yang berkaitan dengan penyimpanan sesuatu, terutama data konten dan sebagainya menurutnya menjadi sangat prospektif ke depannya,” sambungnya.Ketiga, berkaitan dengan data revolusi, karena sekarang seluruh aspek terkait dengan virtual menjadi data yang harus disimpan di penyimpanan digital atau cloud storage.

Sementara produk-produk yang sangat diminati berkaitan dengan kesehatan dan kebutuhan primer, seperti sarung tangan, alat dapur, obat-obatan, beras, buah-buahan, susu, dan alat olahraga.

Lalu, bagaimana dengan bisnis lain yang terdampak Corona? Menurut Sandi yang paling penting itu adalah menjaga optimisme dan jangan sekalipun terpikir untuk menyerah. Sebab, menurutnya terdapat sejumlah peluang usaha di tengah segala keterbatasan yang dihadapi saat ini.

“Kuncinya Innovation fast. Pada masa pademik ini bagaimana kita berinovasi secara cepat dan mampu untuk menjawab tantangan yang kita hadapi. Apalagi yang kita lihat sekarang, semakin hari semakin banyak dari bisnis dan UMKM yang mengalami kesulitan yang diakibatkan permintaan menurun dan penyusuaian adaptasi pada COVID-19 ini,” tambah mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Inovasi tersebut diungkapkan Sandi harus hadir pada setiap langkah para enterpreneur. Bukan pada masa pandemi saja, dalam kondisi apapun entrepreneur harus selalu dapat berpikir cepat dan berinovasi.

“Inovation fast yang dimaksud ini bisa juga di sebut fathanah, amanah, sidiq, dan tabligh, ini adalah kesempatan kita juga di tengah pandemik COVID-19 untuk memperkuat sisi spritual,” tutur Sandi

sumber: detik.com

Sandiaga Uno: 2020, UMKM Terpukul Jatuh di Ronde Awal

Jakarta – UMKM biasanya menjadi pahlawan untuk menyembuhkan kembali ekonomi. Namun di masa pandemi COVID-19 ini UMKM justru KO di ronde pertama.

Sandiaga Uno menyebut ada sebanyak 163.713 UMKM dan 1.785 koperasi terkena dampak dari wabah COVID-19. Terpuruknya UMKM karena turunnya permintaan yang signifikan akibat pembatasan ruang gerak masyarakat.

“Tahun 1998 dan 2008 sektor korporasi sempat bailout akibat krisis yang terjadi di negara ini, tapi UMKM tetap kokoh dan tangguh sebagai frontman dalam menyelamatkan perekonomian nasional. Namun, 2020 UMKM menjadi yang paling terpukul jatuh di ronde awal,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2020).

Menurutnya hal itu menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memperbaiki kondisi saat ini. Pemerintah perlu mencari cara meningkatkan kewirausahaan melalui generasi milenial. Sandiaga menilai di era new normal seharusnya mulai melakukan akselerasi digital dengan cara kolaborasi atau mewadahi anak muda dalam memulai usaha.

Sandiaga juga mengatakan pelaku UMKM harus memanfaatkan platform lain seperti digitalisasi. Permasalahannya sekarang banyaknya UMKM yang gagal masuk ke platform digital lantaran kurangnya produksi ketika adanya peningkatan permintaan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah akuntabilitas dalam mengelola keuangan dan mitigasi krisis. Banyak pelaku UMKM yang belum memahami bagaimana mengelola keuangan secara efektif.

Seringkali UMKM masih buta akuntansi. Tidak adanya catatan keuangan bisnis akan menyulitkan UMKM apa yang harus diprioritaskan.

Sementara Founder KAHMIPreneur Kamrussamad menegaskan, COVID-19 berdampak pada semua aspek, mulai dari Kesehatan sosial, Ekonomi dan juga keuangan.

“Saya juga mengambul contoh di negara Asia seperti Korea Selatan, Singapura dan Thailand, pertumbuhan pada kuartal pertama hingga minus mulai dari minus 0,7% hingga 1,8%. Tidak hanya itu pada kuartal kedua juga semakin parah yaitu yaitu minus 3,3% hingga minus 12%,” katanya.

Dia menegaskan, untuk sebaran koperasi 126.343 unit yang tercatat aktif. Semuanya terdiri dari 756 Unit dari kementerian Koperasi dan UKM, dinas provinsi ada 4.672 dan Dinas Kabupaten dan Kota ada sebanyak 120.915 unit. “Sedangkan jenisnya ada untuk Simpan pinjam ada 15%,Koperasri jasa 3%, Konsumen ada 59%%, Pemasaran 2% dan Produsen 21%,” tegasnya.

sumber: detik.com

Catat Nih, Tips UMKM Bangkit dari Sekarat ala Sandiaga Uno

Jakarta – Pandemi virus Corona telah membuat banyak pelaku usaha khususnya UMKM tumbang. Dengan dibatasinya aktivitas masyarakat membuat banyak dari mereka tengah dalam keadaan sekarat.

Pengusaha Nasional, Sandiaga Uno menyebut para UMKM ini kebanyakan dalam kondisi survival mode. Mereka sekuat tenaga bertahan agar bisnisnya kembali melesat setelah pandemi berakhir.

Namun, belum ada yang tahu pasti kapan kondisi ini akan berakhir. Oleh karena itu dibutuhkan strategi yang tepat untuk bertahan di masa sulit ini.

Sandi menilai, semua pelaku UMKM harus berani mencari ide-ide bisnis baru. Dia mengibaratkan dengan pertandingan basket, jika jalur kanan ditutup, maka harus pintar pivot ke kiri.

“Pebisnis harus reinvent pengetahuan bisnis mereka untuk memunculkan model bisnis yang baru,” ujarnya, Jumat (24/7/2020).

Menurutnya, pelaku UMKM maupun startup mau tidak mau mengedepankan aspek kesehatan dan digitalisasi dalam setiap tahapan bisnisnya. Mulai dari pemesanan, pembayaran, produksi, hingga penyediaan barang.

“Zaman sekarang data dan tren bisnis bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita tinggal mengamati, meniru, dan memodifikasi tren yang ada sehingga kita memiliki model bisnis baru,” tambahnya.

Sandi menilai bisnis yang saat ini dibutuhkan masyarakat adalah kesehatan, teleconference, pelatihan terbuka, biotech, hukum, dan energi bersih.

Sandi memberikan 4 tips bertahan di dunia usaha, yakni pencapaian atau target, stimulasi, arah atau tujuan, dan keamanan bisnisnya. Dia percaya jika 4 hal itu diaplikasikan maka bisnis akan tetap berjalan.

sumber: detik.com