Samanhudi, Pedagang Pejuang dan Peran yang Hilang

JAKARTA – Mengenyam pendidikan, biarpun sebatas sekolah dasar, pada masa lampau adalah suatu hal yang istimewa bagi rakyat kecil. Sebab tak semua anak punya privilege untuk merasakannya. Orangtua mesti punya status sosial tinggi dan berduit banyak jika ingin menyekolahkan anaknya.

Namun ada sesosok tokoh pada masa itu, yang boleh dibilang anti-mainstream. Sebab alih-alih mengejar status pendidikan, seorang putra dari pedagang batik, Haji Muhammad Zen, Wiryowikoro yang selanjutnya dikenal sebagai Kiai Haji Samanhudi justru tidak betah bersekolah dan memilih membantu sang ayah berjualan. Berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya.

Samanhudi dilahirkan di Surakarta pada 1868. Ia tumbuh di keluarga dan lingkungan yang sangat religius. Ia belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an yang selanjutnya mendalami ilmu agama bersama Kiai Jejorno.

Tak hanya mendalami ilmu agama, Samanhudi yang sempat masuk sekolah rakyat (Volks School) pada masa pemerintahan kolonial di Surakarta, selanjutnya mengenyam pendidikan barat di luar Surakarta. Tepatnya Hollandsch Indische School (HIS) di Madiun, sekolah dengan pengantar bahasa Belanda.

Sayangnya, pelajaran sekolah dan apa yang dianggapnya bualan para guru Eropa, membuatnya tak kerasan di ruang kelas. Ia tak merampungkan pendidikannya.

Karena tidak kerasan, Samanhudi kembali mendalami ilmu agama di beberapa pondok pesantren. Ia pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren KM Sayuthi di Ciawigebang, Ponpes KH Abdur Rozak di Cipancur, Ponpes Sarajaya dan Ciwaringin di Kabupaten Cirebon, hingga Ponpes KH Zainal Musthofa  di Tasikmalaya.

Lebih Suka Berdagang
Sepak terjang Samanhudi muda dalam dunia pendidikan memang tidak gemilang. Namun, hal tersebut tak lantas membuatnya bermalas-malasan. Sebab Samanhudi memutuskan untuk membantu sang ayah berdagang batik, sebuah usaha milik keluarga besar.

Perkembangan usaha batik sang ayah tidak lepas dari pengaruh situasi ekonomi dan budaya di Surakarta. Saat itu, wilayah tersebut menjadi salah satu daerah produsen kain batik berkualitas tinggi.

Samanhudi muda rupanya cukup nekat dalam mengasah bakat dagang. Pada usia ke-19, ia memberanikan diri berdagang secara mandiri dan keluar dari perusahaan keluarga besarnya.

Tak lama kemudian Samanhudi dikenal sebagai saudagar batik dengan kepribadian yang ramah dan jiwa sosial yang tinggi di kalangan pemuda Solo. Ia menganggap pekerjanya bukan sebagai bawahan, melainkan saudara.

Atas prinsip persaudaraan tersebut, usaha batik milik Samanhudi berkembang cukup pesat. Hingga ia pun berhasil membuka cabang di berbagai kota di Jawa, seperti Surabaya, Banyuwangi, Tulungagung, Purwokerto, Bandung, dan Parakan.

Sementara perusahaannya di Bandung dikelola oleh sang saudara kandung, Haji Amir, melalui perkumpulan Darmo Loemokso yang keuntungan per harinya tidak kurang dari ƒ2000 (Gulden Belanda). Karena meraup laba cukup besar, Samanhudi mampu memberikan pinjaman bagi yang membutuhkan, tak terkecuali bangsawan kraton.

Pada 1904, Samanhudi mendapat kesempatan menjalankan ibadah haji yang membuatnya bertolak ke Makkah. Selama masa ibadah itu (1904–1905), Samanhudi juga memanfaatkan waktu dengan mempelajari dan mendalami lagi ilmu agama Islam, seperti fikih dan politik.

Saat itu sedang berhembus kencang gerakan pembaharuan Islam yang berupaya membebaskan diri dari Imperialis Barat. Seperti gerakan yang gelorakan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, serta ide-ide panislamisme (solidaritas antarumat Islam) yang bertemu di Makkah saat musim haji.

Haji Samanhudi banyak bertemu dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh Islam. Hasil diskusi dijadikannya inspirasi untuk mengadakan sebuah perkumpulan sepulangnya ke Surakarta.

Keinginan luhur Haji Samanhudi untuk mempersatukan masyarakat muslim di Laweyan, Surakarta, diwujudkan dengan mendirikan Mardhi Budhi yang mengurus masalah kematian dan pemakaman. Selanjutnya, ia mendirikan Rekso Roemokso pada 1908 yang berfungsi menjaga keamanan kampung beranggotakan saudara, teman dan pengikut Haji Samanhudi.

Sarekat Dagang
Pada masa pemerintahan kolonial, perdagangan di Hindia Belanda dimonopoli oleh orang-orang Eropa dan pedagang asing, khususnya China. Pemerintah kolonial seringkali memberikan keistimewaan bagi pedagang asal Negeri Tirai Bambu yang ujungnya memicu rasa ketidakadilan bagi kaum pribumi.

Kondisi itu menggerakkan nurani Haji Samanhudi, untuk melindungi kelangsungan usaha para pedagang pribumi melalui suatu perkumpulan. Sayangnya, perkumpulan Rekso Roemokso yang telah didirikan, berisi para pedagang dan pegawai rendah Kepatihan yang tidak paham seluk beluk penyusunan anggaran dasar sebuah organisasi.

Haji Samanhudi kemudian berinisiatif meminta salah satu rekannya di Kepatihan, yakni R. Djojomargoso, untuk membantu menyusun anggaran dasar Rekso Roemokso. Dalam pekerjaan itu, R. Djojomargoso dibantu Redaktur Surat Kabar Medan Priyayi, Mas Tirtoadisoerjo.

Bukan tanpa alasan, R. Djojomargoso meminta Mas Tirtoadisoerjo untuk menyusun anggaran dasar. Karena sebelumnya beliau telah berhasil mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Batavia pada 1909 dan di Buitenzorg (Bogor) pada 1911.

SDI yang mulai aktif di Batavia pada 5 April 1909 telah mendapat izin dari Gubernur Jenderal dan terus diupayakan oleh Haji Samanhudi agar bisa lebih besar dan modern. Upaya Haji Samanhudi diwujudkan melalui pembentukan Surat Kabar Sarotomo yang mulai terbit pada Maret 1912.

Ia juga membangun Masjid Sarekat Islam, untuk memberi pertolongan bagi kaum Islam yang meninggal dunia dan tidak memiliki kerabat.

Alhasil, gerakan Haji Samanhudi mendapat dukungan dari para pedagang kelas bawah dengan bertambahnya jumlah anggota yang semakin banyak. Menurut laporan Djawi Kondo, jumlah anggota Sarekat Dagang Islam sepanjang 1912 bertambah lebih dari 3.000 orang. Angka yang cukup besar untuk sebuah sarekat dagang pada saat itu.

Perkembangan SDI yang sangat pesat membuat pemerintah kolonial agak ketar-ketir dan mendorong mereka untuk mencari celah demi membatasi pergerakan organisasi. Atas tuduhan peningkatan gerakan sosial yang menimbulkan kekacauan di masyarakat, SDI dijatuhi sanksi pembekuan sementara pada 10 Agustus 1912.

Hal tersebut membuat organisasi itu tidak bisa menambah jumlah anggotanya dan terpaksa menghentikan seluruh kegiatan.

Selanjutnya untuk memastikan SDI bubar, pemerintah kolonial membutuhkan bukti yang menguatkan tuduhan mereka. Kantor-kantor SDI serta kediaman Haji Samanhudi dan petinggi lainnya pun digeledah. Namun, tak pernah satu pun bukti ditemukan yang menguatkan bahwa SDI organisasi yang membahayakan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadi gesekan antara hubungan Haji Samanhudi dan Mas Tirtoadisoerjo. Di satu sisi, Mas Tirtoadisoerjo menganggap SDI di Surakarta merupakan cabang organisasi yang telah ia dirikan di Batavia dan Bogor.

Namun pada di sisi lainnya, Haji Samanhudi juga mengklaim bahwa SDI di Surakarta merupakan proyeknya sendiri. Alhasil, kerja sama keduanya pun renggang dan berakhir.

Setelah itu, Haji Samanhudi mulai sering berdiskusi dengan salah satu anggota SDI di Jawa Timur, Tjokroaminoto, yang telah bergabung sejak Mei 1912.

‘Banting Stir’
Pada suatu kesempatan, Tjokroaminoto menyampaikan gagasannya pada Haji Samanhudi untuk mengubah Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI), dengan pertimbangan kelak anggota tidak terbatas pada kaum pedagang saja.

Tjokroaminoto menyarankan agar perkumpulan bisa terbuka, tidak lagi eksklusif bagi satu golongan tertentu. Gagasan tersebut diterima oleh Haji Samanhudi dan nota organisasi pun dirubah pada 10 September 1912.

J.B. Soedarmanta dalam buku Jejak-Jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa yang terbit pada 2006 menuliskan, organisasi SI selanjutnya melakukan penyusunan anggaran dasar. Termasuk mencari pimpinan dan mengatur hubungan antarpusat dan daerah yang rampung pada 1926.

Posisi Samanhudi di SI semakin kuat ketika pada Kongres SI di Surabaya (25–26 Januari 1913), ia terpilih sebagai ketua SI bersama dengan Tjokroaminoto sebagai wakil ketua. Kongres SI di Surabaya juga menghasilkan keputusan bahwa sarekat akan dipecah menjadi tiga, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Kongres tersebut juga memutuskan setiap cabang SI akan memiliki Hoofdbestuur. Ketiganya akan dipimpin oleh Centraal Comite yang berkedudukan di Solo. Surabaya ditentukan menjadi Hoofdbestuur Jawa Timur, sedangkan Jawa Barat dan Jawa Tengah belum ditentukan.

Tak lama setelah itu, tepatnya pada 25 Maret 1913, Kongres SI yang kedua dilaksanakan di Surakarta dengan agenda pemilihan Centraal Comite atau pengurus besar. Sementara untuk jabatan ketua dan wakilnya tidak berubah.

Kongres yang dibuka oleh Haji Samanhudi itu dikendalikan oleh Tjokroaminoto bersama Atmo Soeharjo, Sekretaris Bestuur, dan petinggi lainnya. Banyak yang memperkirakan pada kongres tersebut peranan Haji Samanhudi akan berkurang.

“Harus diingat juga, apa sebabnya anggota SI senantiasa bertambah. Saya terlalu mencintai SI, sebab sayalah yang membuat SI,” kata Samanhudi seperti ditulis buku Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli yang disusun Pitut Soeharto dan Zainoel Ihsan tahun 1981.

Sebagian peserta kongres cukup tersinggung dengan pernyataan Haji Samanhudi tersebut. Pasalnya, beliau dinilai tidak layak lagi memimpin SI karena ada sosok muda yang lebih visioner, yakni Tjokroaminoto.

“Apakah sebabnya kalau tuan Samanhudi memang sungguh cinta kepada SI, mengapa tiada suka menyerahkan kepada orang-orang yang pandai-pandai supaya SI itu dapat hidup patut?” tandas salah satu peserta kongres, Dwijosewojo, yang membuat suasana semakin memanas.

Kongres kedua itu menyisakan perselisihan antara golongan muda terpelajar (pendukung Tjokroaminoto) dan golongan tua tak berpendidikan (pendukung Haji Samanhudi). Gesekan tersebut berlangsung hingga sampai di meja pers sebelum kongres ketiga terselenggara.

Yogyakarta menjadi tempat kongres ketiga SI pada 1914. Pada kongres tersebut, Tjokroaminoto akhirnya terpilih menjadi Ketua SI menggeser Haji Samanhudi. Para anggota kongres menilai bahwa sarekat mesti dipimpin oleh seseorang sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun tanpa mengurangi rasa hormat pada Haji Samanhudi, seluruh anggota kongres mengangkat beliau sebagai Ketua Kehormatan Sarekat Islam.

“Samanhudi tidak memenuhi semua persyaratan menjadi pemimpin yang baik karena ia praktis tidak terdidik, baik menurut Islam maupun ukuran modern, berpikiran sempit tentang segala hal di luar lingkungan sehari-harinya, sama sekali tidak memiliki kemampuan berbicara di depan umum, tanpa sopan santun, keras kepala, dan bertindak semaunya sendiri,” tandas Penasihat Urusan Bumiputera-Pemerintah Hindia Belanda saat itu, D.A Rinkes.

Secara perlahan, peranan Haji Samanhudi pada SI secara keseluruhan menurun drastis dan mengabaikan kegiatan-kegiatan yang ia yakini menyimpang dari tujuan organisasi pada awal didirikan. Sejak Kongres SI di Yogyakarta, Haji Samanhudi tak pernah lagi menghadiri rapat penting organisasi tersebut.

Haji Samanhudi pada akhirnya memutuskan untuk menyudahi karier politiknya dan kembali berjualan batik. Kendati demikian, ia masih berumur panjang untuk merasakan Kemerdekaan Indonesia hingga akhirnya ia wafat 28 Desember 1956 dalam usia 88 tahun.

Dari Haji Samanhudi, kita dapat memahami bahwa seseorang tak perlu dan tak akan mampu memaksakan kehendak zaman. Generasi terus berubah, mengikuti arus perkembangan zaman.

Setiap generasi membawa ciri khas zamannya masing-masing. Antar satu generasi dengan yang lainnya tak perlu berebut tempat, sebab waktu dan zaman yang akan memilih. Siapa yang mampu bertahan dan siapa yang mesti duduk di belakang menyaksikan perkembangan zaman. (Yoseph Krishna, berbagai sumber)

sumber: validnews.id